Senin, 26 Desember 2011

TEORI FLORENCE NIGHTINGALE


Add caption
Florence Nightingale lahir tanggal 12 Mei 1820 di Florence, Italia, dalam suatu perjalanan panjang keliling Eropa. Nama depannya, Florence merujuk kepada kota kelahirannya, Firenze dalam bahasa Italia atau Florence dalam bahasa Inggris. Florence Nightingale memiliki seorang kakak perempuan bernama Parthenope. anak pertama, lahir di Napoli, Yunani. Beliau adalah seorang anak bangsawan Inggris yang kaya, beradab dan bercita-cita tinggi yang bernama William Edward Nightingale.
Semasa kecilnya ia tinggal di Lea Hurst, sebuah rumah besar dan mewah milik ayahnya, William Edward Nightingale yang merupakan seorang tuan tanah kaya di Derbyshire, London, Inggris. Sementara ibunya adalah keturunan ningrat dan keluarga Nightingale adalah keluarga terpandang. Pendidikan didapat dari ayahnya, ia belajar bermacam-macam bahasa yaitu bahasa Latin, Yunani, Perancis, dan lain-lain. Ia senang memelihara binatang yang sakit, selain itu ia senang bersama ibunya mengunjungi orang miskin yang sakit serta rajin beribadah.
Pada masa remaja mulai terlihat perilaku Florence dan kakaknya yang kontras, Parthenope hidup sesuai dengan martabatnya sebagai putri seorang tuan tanah. Pada masa itu wanita ningrat, kaya, dan berpendidikan aktifitasnya cenderung bersenang-senang saja dan malas, sementara Florence sendiri lebih banyak keluar rumah dan membantu warga sekitar yang membutuhkan. Pada suatu ketika, pada saat Florence berdoa dengan hikmat ia mendengar suara Tuhan bahwa dalam hidupnya menanti sebuah tugas, saat itu usianya tujuh belas tahun. Akhirnya Pada tanggal 7 Februari 1837 dia menulis di buku hariannya tentang pengalamannya itu dengan judul “Tuhan berbicara kepadaku dan memanggilku untuk melayani-Nya. Tetapi pelayanan apa?”
Dia menyadari bahwa dirinya merasa bersemangat dan sangat bersukacita bukan karena status sosial keluarganya yang kaya tetapi merasa bersemangat disaat ia merawat keluarga-keluarga miskin yang hidup di gubuk gubuk sekitar rumah keluarganya serta ia sangat gemar mengunjungi pasien-pasien di berbagai klinik dan rumah sakit.
Sebagai keluarga yang berasal dari kalangan mapan, keinginan Florence untuk berkarier sebagai perawat mendapat tantangan keras. Ibu dan kakaknya sangat keberatan dengan jalur yang hendak ditempuh Florence. Sedangkan ayahnya, meski mendukung kegiatan kemanusiaan yang dilakukan putrinya ini, juga tidak ingin Florence menjadi perawat.
Pada masa itu, pekerjaan sebagai perawat memang dianggap pekerjaan yang hina, alasannya:
·         perawat disamakan dengan wanita tuna susila atau “buntut” (keluarga tentara yang miskin) yang mengikuti ke mana tentara pergi;
·         profesi perawat banyak berhadapan langsung dengan tubuh dalam keadaan terbuka sehingga profesi ini dianggap sebagai profesi yang kurang sopan untuk wanita baik-baik, selain itu banyak pasien memperlakukan wanita yang tidak berpendidikan yang berada di rumah sakit dengan tidak senonoh;
·         perawat di Inggris pada masa itu lebih banyak laki-laki daripada perempuan karena alasan-alasan tersebut di atas;
·         perawat masa itu lebih sering berfungsi sebagai tukang masak.

Namun hasrat Florence adalah tetap menjadi perawat. Ketika berumur 20 tahun ia meminta ijin kepada orang tuanya untuk memasuki rumah sakit dan mempelajari keperawatan, tetapi orang tuanya tetap tidak mengijinkan karena rumah sakit pada saat itu keadaannya sangat memprihatinkan. Walaupun dilarang, semangat Florence untuk menjadi perawat tidak pupus.
Pada suatu saat neneknya sakit, disinilah ia mendapat kesempatan untuk merawatnya sampai neneknya meninggal. Dengan pengalaman tersebut bertambahlah pengalaman Florence dalam merawat orang sakit. Florence berpendapat bahwa ia perlu menuntut ilmu agar dapat menjalankan pekerjaan perawat dengan baik. Pendapatnya yang lain adalah dengan menolong sesama manusia berarti pula mengabdikan diri kepada Tuhan.
Dia bertanya kepada seorang dokter tamu dari Amerika, Dr. Samuel Howe, “Apakah pantas bagi seorang gadis Inggris mencurahkan hidupnya untuk menjadi seorang perawat?” Dr. Samuel Howe menjawab, “Di Inggris, semua yang tidak biasa dianggap tidak layak. Tetapi bukanlah sesuatu yang tidak mungkin terjadi atau tidak wajar bagi seorang wanita terhormat bila melakukan suatu pekerjaan yang membawa kebaikan bagi orang lain.”
Florence sering bertanya-tanya, mengapa gereja Protestan tidak seperti Catholic Sisters of Charity suatu jalan bagi para wanita untuk mencurahkan hidupnya dengan melayani orang lain. Dr. Howe menceritakan kepadanya tentang Kaiserworth di Jerman, didirikan oleh Pendeta Theodor Fliedner. Tempat itu mempunyai rumah sakit yang dilengkapi ratusan tempat tidur, sekolah perawatan bayi, sebuah penjara berpenghuni dua belas orang, sebuah rumah sakit jiwa untuk para yatim, sekolah untuk melatih para guru, dan sekolah pelatihan untuk para perawat disertai ratusan diaken. Setiap kegiatan selalu diikuti dengan doa, dengan semangat tinggi Florence menanggapi cerita Dr. Howe bahwa Kaiserworth adalah tujuannya.
Pada bulan Juli 1850, di usianya yang ke-30, akhirnya Florence pergi ke Kaiserworth di Jerman. Setahun kemudian, dia pulang ke rumah dan tinggal selama tiga bulan. Dia pulang dengan sikap baru. Sekarang dia tahu bahwa dirinya harus membebaskan diri dari kehidupannya yang terkekang.
Tiga tahun kernudian, dia melaksanakan pekerjaan keperawatannya yang pertama sebagai pengawas di Institute for the Care for Sick Gentle Woman in Distressed Circumstances. Dia memasukkan pemikiran-pemikiran baru ke dalam institusi itu dan menerapkan beberapa ide yang revolusioner, seperti pipa air panas ke setiap lantai, elevator untuk mengangkut makanan pasien, dan para pasien dapat langsung memanggil para perawat dengan menekan bel.
Dia juga menetapkan bahwa institusi tersebut bukan institusi sekte, institusi tersebut menerima semua pasien dari semua denominasi dan agama. Di sini ia beragumentasi sengit dengan Komite Rumah Sakit karena mereka menolak pasien yang beragama Katolik. Florence mengancam akan mengundurkan diri, kecuali bila komite ini merubah peraturan tersebut dan memberinya izin tertulis berbunyi;
“rumah sakit akan menerima tidak saja pasien yang beragama Katolik, tetapi juga Yahudi dan agama lainnya, serta memperbolehkan mereka menerima kunjungan dari pendeta-pendeta mereka, termasuk rabi, dan ulama untuk orang Islam”
Komite Rumah Sakit pun merubah peraturan tersebut sesuai permintaan Florence. Ternyata , Florence harus menanti cukup lama hingga ia bisa menjadi seorang perawat, yaitu sekitar lima belas tahun. Waktu yang sedemikian ini belakangan diyakini Florence sebagai kehendak Tuhan yang menyatakan bahwa dirinya harus dipersiapkan terlebih dahulu sebelum terjun sebagai seorang perawat.
Keperawatan diselenggarakan mulai pada pertengahan 1800-an dengan kepemimpinan Florence Nightingale. Sebelum masanya, asuhan keperawatan dilakukan oleh orang miskin dan pemabuk. Rumah sakit ditempatkan dimana masyarakat miskin sering menderita penyakit yang disebabakan karena lingkungan dan mengakibatkan mereka harus dorawat di rumah sakit. Dalam rumah sakit adanya suatu kotoran, operasi tanpa anestesi, ada dan tidaknya sanitasi adalah hal yang wajar.
Keyakinan Nightingale tentang keperawatan dari fondasi dasar asuhan keperawatan yang dipraktekkan saat ini, yaitu keyakinan agama dan pengalaman keperawatan militer selama perang crimen memiliki pengaruh yang kuat pada pendekatan dan keyakinan tentang merawat orang sakit. Melalui observasi dan pengumpulan data, Nightingale menghubungkan antara status kesehatasn klien dengan faktor lingkungan dan sebagai hasil yang menimbulkan perbaikan kondisi hygine dan samitasi selama perang crimen. Kemampuannnya menulis yang ditunjukkan dalam catatan keperawatannya, dapat dikaitkan dengan pendidikannya yang dicapai terutama melalui bimbningan ayahnya. Dia bepergian dan memiliki kemampuan untuk menangani dalam pemerintahan politik. Banyak menyebutnya jenius, jadi dalam pendekatan teoritis dia adalah seorang perawat profesional.
Nightingale tidak secara khusus menyebutkan tulisannya dalam konteks terminologi saat ini, yaitu mengenai konsep dan teori. Namun tulisan-tulisan tentang keperawatan dapat ditafsirkan untuk mencerminkan adanya pendekatan teoritis untuk proses keperawatan. Adanya pemikiran-pemikiran kuno atau “out-of-date”. Hal ini harus dihindari karena banyak pemikiran-pemikiran tentang keperawatan masih universal dan dilakukan dalam praktek kontemporer.

2.2. TEORI NIGHTINGALE DALAM  LINGKUNGAN KEPERAWATAN
            (Maleis : 1985) mencatat bahwa konsep Nightingale menempatkan lingkungan sebagai fokus asuhan keperawatan dan perhatian dimana perawat tidak perlu memahami seluruh proses penyakit, yang merupakan upaya awal untuk memisahakan antara profesi keperawatan dan kedokteran. Konsep inti yang paling rekleftif dan tulisan-tulisan Nightingale adalah konsep lingkungan. Meskipun ia cenderung untuk menekankan lingkungan fisik dari pada lingkungan psikologis atau sosial, ini perlu dilihat dalam konteks waktu dan aktivitasnya sebagai pemimpin perawat di lingkungan yang dilanda perang. Hal ini dimengerti bahwa dia, telah menyaksikan pada 1850 awal kotoran, hama, dan kematian dalam suatu rumah sakit barak enermous, akan fokus peningkatan berat sehingga lingkungan membantu tentara untuk sekedar bertahan hidup. Melalui penekanan, angka kematian dari 42 mengejutkan per 100 yang rendah dari 22 per 1000. Keberhasilan ini memberikan dasar yang kuat saat melihat keperawatan dengan caranya sendiri yang unik.
            Lingkungan dipandang sebagai kondisi eksternal dan mempengaruhi kehidupan dan perkembangan suatu organisme dan mampu mencegah, menekankan, atau berkontribusi terhadap penyakit atau kematian. Nightingale menyatakan tentang pemberian hal-hal seperti ventilasi, udara bersih dan air, kebersihan, dan kehangatan, sehingga proses reparatif yang menunjukkan bahwa alkam telah menyatu. Juga membantu pasien terhadap retensi kakuatan vital mereka dengan memenuhi kebutuhan mereka dipandang sebagai tujuan keperawatan. Rasa keyakinannya dinyatakan ketika berbicara tentang unsur lingkungan hidup yang menganggu kesehatan, seperti kotoran, kelembaban, menggigil, draf, bau dan kegelapan.
            Praktik medis tidak dipandang sebagai suatu proses kuratif, namun memiliki fungsi membantu alam. Dengan demikian, menyusi juga merupakan praktik noncurative diamana pasien dinyatakan dalam kondisi terbaik untuk alam. Kondisi ini ditingkatkan dengan menyediakan lingkungan yang kondusif untuk promosi kesehatan.
            Pada detik ini, sangat membantu untuk berpikir tentang pasien yang telah menjalani operasi, seperti operasi usus buntu dan menghubungkan apa yang dinyatakan Nightingale. Ilmu kedokteran dapat dilihat sebagai fungsi untuk menghilangkan bagian yang sakit, sedangakan menyusui tempat pasien dalam lingkungan dimana alam dapat membantu pasien pascaoperasi untuk mencapai kondisi kesehatan yang optimal. Pendekatan untuk keperawatan berlaku sampai hari ini seperti lebih dari seratus tahun lalu, terlepas dari kenyataan bahwa baik di rumah maupun rumah sakit lingkungan saat ini lebih canggih daam strukturnya. Ini harus disimpan dalam  pikiran sebagai teori yang dipandang lebih terinci. Teori Nightingale banyak terdapat dalam catatan tulisannya dan keperawatan.
Tabel 3-1 menunjukkan bidang utamanya pengendalian lingkungan, yang meliputi ventilasi, kehangatan, effulivia, kebisingan, dan cahaya. Perlu di ingat bahwa itu adalah keterkaitan konsep lingkungan yang sehat dengan praktik keperawatan, seperti yang terlihat oleh florence Nightingale yang menawarkan suatu teori dasar praktik keperawatan.
Ventilasi, terutama dengan  udara segar yang meningkat, diberikan tanpa draf, merupakan kepentingan utama. Mengacu cahaya sinar matahari untuk sebagian besar dan sekunder. Kehangatan, kebisingan, dan effluvia (bau) dilihat sebagai daerah di mana perhatian harus diberikan dalam opder untuk menyediakan lingkungan yang positif.



TABEL 3-1 NIGHTINGALE KONSEP  LINGKUNGAN
Mayor bidang konsentrasi
Contoh
Ventilasi
Udara segar, adalah kebutuhan dasar yang sangat penting, dapat dicapai melalui jendela yang terbuka. Rusak, stagnan, dan udara yang pengap dapat memperburuk kondis. Outlet di perlukan untuk kemurnian udara. Jendela dan pintu terbuka harus dihindari, karpet kotor dan furniture merupakan sumber kotoran di udara.
Kehangatan
Yang terpenting adalah menjaga hilangnya panas, hal ini adalah penting untuk pemulihan pasien. Pendinginan harus dihindari. Botol panas, batu bata, dan minuman harus digunakan untuk mengembalikan panas yang hilang.
Effluvia (bau)
Sewer udara harus dihindari, dan perawatan diperlukan untuk mentingkirkan bau badan berbahaya yang disebabkan oleh penyakit. Peralatan kamar harus open door (bebas) dari pandangan. Fumigations dan desinfektan tidak boleh digunakan, dan subtansi ofensif dihilangkan.
Kebisingan
Suara tiba-tiba terputus menyababkan gairah lebih besar dari kebisingan kontinue, terutama saat pasien tidur. Semakin banyak tidur, pasien akan menjadi labih baik. Berjalan ringan, berbisik atau mendiskusikan kondisi pasien di luar kamarnya itu hal yang tidak layak.
Cahaya
Untuk kebutuhan udara segar adalah cahaya. Tempat tidur harus di tempatkan dalam posisi yang memungkinkan pasien untuk melihat keluar jendela, langit dan sinar matahari.
 
            Dalam menggunakan dasar konsep lingkungan dalam proses keperawatan, menjadi jelas bahwa praktisi harus melihat pasien dalam konteks tertentu. Misalnya, mininjau situasi berikut :
Situasi 1 : Nyonya Anderson, seorang perawat kesehatan masyarakat, Baru saja mengunjungi Mrs Rose. Pasien 80 th yang terkena rematik yang tinggal sendirian di sebuah komunitas pedesaan. Sejak Mrs Rose mengalami kesulitan berambulasi, tetangganya sering mengunjunginya dan membantu  dengan cara apapun yang mereka bisa. Salah satu tetangga ini meminta agar nyonya Anderson mengunjunginya untuk melihat situasi.
 Pada saat memasuki rumah Mrs Rose. Nyonya Anderson sadar akan kekurangan udara segar, kegelapan lingkungan yang disebabkan oleh tirai berdebu tua yang menutupi jendelanya, dan draf di kamar tidur. Mrs Rose duduk di kursi tua yang memberikan pandangan tentang dunia di sekelilingnya.
            Setela kunjungan itu, nyonya Anderson menghubungi tetangga Mrs Rose untuk mengatur rencana untuk memperbaiki lingkungannya. Tirai itu harus dilepas dan ganti dengan tirai sederhana yang akan membiarkan matahari pagi memasuki ruangan. Pintu harus tetap terbuka selama udara masih diperlukan dalam periode tertentu dalam sehari. Dengan perawatan yang diberikan untuk mengurangi draf, kursi favorit Mrs Rose adalah menjadi tempat persinggahan sehingga bisa meflihat keluar jendela untuk melihat para tetangga datang dan pergi. Contoh ini tidak boleh di pandang sebagai penilaian lengkap Mrs Rose, tetapi untuk menunjukkan bagaimana konsep dasar lingkungan Nightingale terkait dengan proses keperawatan yang dapat memberikan kita pandangan.
            Nightingale berpendapat lingkungan pasien sangat mempengaruhi, meskipun ia tidak secara khusus membedaakn antara lingkungan fisik, sosial, maupun psikologis. Dia berbicara tentang ketiganya daalm praktik keperawatan. Penekanan ditempatkan pada lingkungam fisik pasien. Dalam konteks waktunya, hal ini tepat sebagai sebuah profesi. Ketika sebuah lingkungan fisik yyang optimal, perhatianm yang lebih besar daapt diberikan denagn kebutuhan emosional pasien serta pencegahan penyakit.
Diet
Fentilasi
Garis kebutuhan
Udara
Cahaya
Keramaian
Air
Kebutuhan tempat tidur
Drainase
Kehangatan
Pola makan


                                                                        Lingkungan Fisik





Kondisi Pasien dan Alam
Data pemantauan pencegahan penyakit
Macam – macam komunikasi
 






Lingk Psikolog      GAMBAR 3-1 yaitu pandangan dari teori Nightingale   Lingk sosial
gambar kondisi pasien dan alam. Di sini tekanan dari lingkungan pada pasien dan alam berfungsi bersama-sama untuk memungkinkan proses reparatif terjadi. Tiga komponen fisik, sosial dan psikologis yang harus doipandang sebagai interrelating dari pada sebagian bagian yang terpisah. Kebersihan lingkungan fisik memiliki oengaruh langsung terhadap masyarakat, begitu juga dengan lingkungan psikologis dan juga sosial juga sangat dipengaruhi oleh lingkungan fisik.

2.3. KOMPONEN-KOMPONEN TEORI NIGHTINGALE
LINGKUNGAN FISIK
            Seperti tercantum dalam tabel 3-1, komponen lingkungan dasar fisik di alam dan berhubungan dengan hal-hal ventilasi dan kehangatan, faktor-faktor dasar yang mempengaruhi satu pendekatan untuk semua aspek lain dari lingkungan. Kebersihan adalah hal yang berhubungan denmgan semua aspek dari lingkungan fisik dimana pasien berada. Dindind dan seluruh ruangan tidak boleh berdebu, berasap atau berbau. Tempat tidur pasien harus bersih, ditayangkan, hangat, kering, dan bebas dari bau. Serta harus menyediakan suatu lingkungan dimana pasien dapat dengan mudah dirawat oleh orang lain atau diri sendiri. Lebar, tinggi dan penempatan tempat tidur harus di tempatkan di tempat yang terbaik., jauhkan dari suara-suara yang berbau drainase, posis pasien di tempat tidur harus dilihat dalam kontekstualisasi mendukung adanya ventilasi.
LINGKUNGAN PSIKOLOGIS
            Nightingale berpendapat pengaruh pikiran pada tubuh sangat berpengaruh pada kondisi mental pasien, bagaimanapun kurangnya pemahaman tentang kondisi tubuh yang dipengaruhi oleh lingkungan yang negatif dapat menyebabkan stress fisik yang akan berdampak pada emosional pasien. Oleh karena itu penekanan pada pasien adalah suatu pilihan untuk menjaga pikirannya atau malah memperburuk kondisi mentalnya. Pandangan dari sinar matahari, daya tarik makanan, dan kegiatan emosional. Komunikasi dengan pasien di pandang dalam konteks lingkungan secara global, komunikasi tidak boleh terburu-buru di depan pasien, kecuali ketika kegiatan makan bersama yang terjadidalam satu temapt komunikasi dengan lingkungan pasien. Di luar ruang pasien atau dalam jarak pendengaran mereka di pandang sebagai hal yang tidak layak. Seseorang tidak seharusnya mendorong orang sakit (memberi motivasi) dengan harapan palsu dan nasehat tentang penyakit mereka. Sebaliknya, penekanan di sini adalah pada berkominikasi tentang dunia di sekitar mereka bahwa mereka kehilangan, atau tentang kabar baik pengunjung dapat berbagi. Sekali lagi, pasien di pandang dalam konteks lingkungan sosial.
LINGKUNGAN SOSIAL    
            Pengamatan lingkungan sosial, terutama yang terkait dengan data tertentu. Koleksi yang berkaitan dengan penyakit, sangat penting untuk mencegah penyakit. Jadi, setiap perawat harus menggunakan kekuatan observasi dalam menangani kasus-kasus tertentu demi kenyamanan pasien dengan data “rata-rata” yang diperoleh.
Terkait erat dengan lingkungan masyarakat sosial adalah gagasan mereka yang telah dibahas. Ada kaitannya dengan lingkungan pasien yaitu individu, fisik seperti iudara bersih, air dan drainase yang tepat atau kotoran. Keseluruhan lingkungan pasien tidak hanya mencakup rumah pasien atau ruang rumah msakit tapi jumlah masyarakat yang mempengaruhi lingkungan tertentu.

2.4. TEORI NIGHTINGALE DAN KONSEP EMPAT BESAR
            Dalam meninjau bagaimana teori Nightingale yang berhubungan denfgan empat konsep utama, bahwa lingkungan adalah konsep penting dari teorinya. Gambar 3-2 teori nightingale menghubungkan dengan mengidentifikasi empat konsep utama. Lingkungan akan mempengaruhi pada kondisi manusia dan keperawatan memiliki peran lingkungan yang mempengaruhi, sehingga kesehatan menjadi proses reparativ yang berdampak pada konsep lain. Fungsi perawat untuk mempengaruhi lingkungan hidup manusia yang mempengaruhi kesehatan. Individu dipengaruhi oleh lingkungan dan oleh perawat yang mempengaruhi kesehatannya. Lingkungan sosial memiliki dampak pada perawat dan kesehatan individu. Kesehatan adalah proses yang dipengaruhi oleh keperawatan oleh kondisi lingkungan dan manusia. Hubungan ini memberi makna teori dengan menyediakan pandangan dunia dimana kita adalah sebagai perawat.
Daftar berikut merupakan pandangan Nightingale dari konsep utama :
1.      Manusia atau individu memiliki kekuatan reparativ penting untuk menangani penyakit.
2.      Tujuan keperawatan adalah untuk menempatkan individu dalam kondisi terbaik untuk alam untuk bertindak dengan dasar mempengaruhi lingkungan.
3.      Kesehatan / penyakit adalah reparativ proses OPF semakin baik.
4.     
Masyarakat
Masyarakat / lingkungan melibatkan kondisi eksternal yang mempengaruhi kehidupan dan perkembangan individu. Fokusnya adalah pada ventilasi, kehangatan, bau, suara, dan cahaya.
Individu
Perawat                                                                                                 Sehat /
                                                                                                              Sakit

GAMBAR 3 – 2 teori Nightingale dan empat besar konsep
Pada dasarnya, konsep-konsep ini sangat emplisit dan dengan demikian mereka mungkin disalah pahami dan disalah tafsirkan oleh mereka untuk menggunakan teori. Konsep-konsep yang paling jelas adalah lingkungan sosial. Namun, tidak jelas bagaimana ekstensif atau global nightingale dilihat dari lingkungan. Teori lain yang akan dibahas kemudian dalam buku ini melihat lingkungan dari sudut pandang universal yang luas. Nightingale mungkin berfokus pada lingkungan terdekat di mana manusia menemukan diri mereka sendiri.
Melihat hari ini barsih dan air dengan kepedulian kami atas pencemaran lingkungan yang cukup berbeda dari yang diadakan selama abad kesembilan belas. Jadi, meskipun focus utama Nightingale adalah pada lingkungan, ia mendefinisikan konsep yang dalam kenteks waktu hanya untuknya.
Sulit untuk memahami apa konsep manusia / individu benar – benar berarti untuk Nightingale. Dia mendiskripsikan manusia hanya dalam dalam hal proses penyembuhan mereka. Namun, orang dapat menarik asumsi tertentu yang dasar teorinya seperti manusia membutuhkan udara bersih, air bersih, dan nutrisi yang tepat. Jadi, untuk menggambarkan individu sebagai responsive terhadap lingkungan dan memiliki kekuatan penyembuhan dalam diri mereka.
Perawat ini dijelaskan dalam reaksi tiga konsep lainnya. Nightingale adalah orang pertama yang memberi kejelasan tujuan keperawatan. Jadi, setiap deskripsi atau penjelasan peran professional. Dengan standart ini ia memberikan gambaran yang agak jelas terbatas namun makna keperawatan sebagai praktek noncurative di mana pasien diletakkan dalam posisi terbaik untuk bertindak.

2.5 THEORY NIGHTINGALE DAN PROSES KEPERAWATAN
            Secara umum, meskipun  teori Nightingale hanya agak samar – samar didefinisikan, ia menawarkan banyak hal dalam membimbing praktek dan penelitian di generalisasi dan kesederhanaan. Sebuah contoh aplikasi untuk berlatih berikut.
            Situasi II. Mrs Kerr adalah tujuh puluh – tahun penduduk tua yang tinggal di sebuah panti jompo tua local. Dia jarang dikunjungi oleh kerabat hidup satu – satunya, saudara laki – laki yang beberapa tahun lebih tua. Beberapa tahun yang lalu, ia menjadi sebagian bergerak di sisi kanannya dan terus memiliki kesulitan berjalan di sekitar rumah. Ketika diingatkan, dia bisa pergi ke ruang makan untuk makan tapi makannya sangat sedikit. Lingkungan terdiri dari dua – kamar tidur, yang dia saham dengan delapan puluh – wanita tua yang tidak menyadari sekelilingnya – tahun. Pada masuk, Mrs. Kerr tidak mampu membawa barang milik sendiri.
Ketika berkomunikasi, dia ingat hari – hari “tua” ketika dia mengajar di sekalh dasar. Dia jarang melakukan percakapan dan menghabiskan sebagian besar waktunya duduk di kursi di ruang tunggu, tampaknya menonton televisi.
Situasi di atas sudah menjadi ciri khas penduduk dalam rumah jompo. Dalam menggunakan proses keperawatan dengan focus pada teori Nightingale, adalah penting untuk lingkungan Mrs. Kerr dan reaksinya, bukan khusus untuk dirinya sebagai penduduk. Table 3 – 2 mencerminkan teori Nightingale.
Penekanan utama dalam situasi ini adalah untuk merestrukturisasi lingkungan langsung di sekitar Mrs. Kerr sehingga dapat bertindak untuk menjaga kondisi optimalnya. Dengan penilaian ulang tambahan dan evaluasi, banyak yang dapat dilakukan untuk memperpanjang kehidupan kesehatan dan mempromosikan kenyamanan secara menyeluruh. Hal ini dimaksudkan bahwa penilaian tersebut lingkungan rumah jompo dapat merusak kesehatan Mrs. Kerr. Dengan penerapan teori adaptasi, kebutuhan, dan stress dengan situasi ini, dalam hal lingkungan, dasar untuk praktek keperawatan menjadi terdengar lebih teoritis.
Beberapa pertanyaan yang dapat digunakan untuk memandu praktek dalam mengimplementasikan teori Nightingale dalam situasi seperti Nyonya Kerr adalah:
1.      Apakah lingkungan factor yang paling penting dalam perawat efektif Mrs. Kerrs?
2.      Adaptasi apa yang dapat dilakukan dalam waktu seperti yang akan memfasilitasi asuhan keperawatan yang optimal?
3.      Melakukan penyesuaian dalam lingkungan pasien menyebabkan keadaan yang optimal kesehatan dan memperpanjang hidup mereka?
4.      Apakah jumlah stress dalam lingkungan tersebut mempengaruhi baik warga dan perawat?
5.      Apa hierarki kebutuhan terpenuhi di lingkungan seperti itu?
Sebagai pendekatan untuk praktek keperawatan, teori Nightingale adalah teori yang sekarang berlaku seperti seratus tahun yang lalu. Dalam lingkungan rumah sakit, banyak yang dapat dilakukan untuk mengatasi stres, meningkatkan adaptasi, kebutuhan pasien melalui minor yang dapat dilakukan oleh perawat professional. Beberapa contoh adalah sebagai berikut: penempatan tempat tidur dalam ruangan untuk memberikan pandangnan dari dunia luar atau sinar matahari, mendorong dan mendidik pengunjung untuk menyediakan berbagai jumlah yang lebih besar dan atau stimulasi dalam lingkungan, yang yang tiba – tiba terburu – buru. Meskipun rumah sakit saat ini memiliki udara bersih melalui AC, dan air bersih melalui system pipa lebih canggih, mereka masih memiliki ventilasi yang berbau diciptakan oleh kurangnya perhatian terhadap rincian tersebut.
Banyak teori Nightingale yang mungkin dipandang sebagai hal yang melibatkan akal sehat dasar, seperti memberikan perhatian pada kebersihan lingkungan pasien, menjaga kehangatan  dan memberikan pencahayaan yang memadai untuk membaca. Namun hal – hal seperti itu sering diambil untuk diberikan dan sering dilupakan.


2.6 KARAKTERISTIK TEORI NIGHTINGALE
Teori keperawatan Nightingale memiliki kekuatan dan kelemahan yang dalam kaitannya dengan karakteristik dari teori suara disajikan dalam Bab I seperti yang tercantum di bawah ini.
1.      Teori konsep dapat saling mengisi seperti sedemikian rupa untuk menciptakan cara berbeda dalam memandang dalam suatu fenomena tertentu. Sebagai dimaksud sebelumnya, empat konsep utama tidak eksplisit dalam teori Nightingale. Namun, mereka menawarkan perawatan dengan cara tertentu mamandang sebuah fenomena. Hal ini terbukti dalam dua contoh yang dijelaskan dalam bab ini. Dilihat dengan sangat sederhana, teori ini tidak menawarkan prediksi dalam kaitannya dengan hasil asuhan keperawatan. Menciptakan lingkungan yang positif akan memungkinkan manusia untuk menjadi sehat. Namun kita tahu hari ini bahwa, meskipun lingkungan manusia sangat penting dalam kaitannya dengan kesehatan, variable lain seperti juga genetika yang signifikan.
2.      Teori harus logis di alam. Hubungan antara masing – masing konsep adalah logis dan konsisten dengan asumsi yang sama. Asumsi bahwa lingkungan mempengaruhi konsistensi manusia dengan penjelasan Nightingale dari pupose dan tujuan keperawatan dan arti kesehatan.
3.      Teori harus relative sederhana namun digeneralisasikan. Teori Nightingale meskipun terbatas, memiliki banyak generalisasi. Hal ini dapat digunakan di rumah atau di mana manusia dapat ditemukan. Ide – ide pada dasarnya juga singkat untuk menerapkan dan mudah untuk mengukur hasil.
4.      Teori dapat menjadi basis untuk hipotesis yang dapat diuji.
5.      Teori berkontrubusi dan membantu dalam meningkatkan tubuh secara umum pengetahuan dalam disiplin melalui penelitian yang ditetapkan untuk memvalidasi mereka.
6.      Teori dapat digunakan oleh praktisi untuk membimbing dan meningkatkan praktek mereka.
7.      Teori harus konsisten dengan teori yang memvalidasi lainnya, hokum, dan prinsi – prinsip akan meninggalkan pertanyaan tak terjawab terbuka yang perlu diselidiki.
Karena kesamaan, keempat karakteristik terakhir akan dibahas bersama – sama karena mereka berhubungan dengan teori Nightingale. Terlepas dari kesederhanaan dan generalisasi dari teorinya, keperawatan belum cukup dimasukkan ke dalam banyak praktek atau penelitian. Misalnya, dengan cara, teorinya telah diteliti oleh para ilmuwan seperti lingkungan. Artinya, kita semakin menyadari bagaimana polusi lingkungan mempengaruhi kesehatan kita dalam cara yang negatif. Dari perspektif yang luas, ini harus memberikan validasi teori Nightingale. Namun, kita belum culup divalidasi teori dalam konteks perawatan kesehatan dan lingkungan keperawatan.
Pertanyaan dan penelitian yang dapat menyebabkan hipotesis perlu diuji dalam perawatan klinis. Misalnya, apa yang mempengaruhi apakah lingkungan rumah sakit telah pada kecepatan proses haeling? Apakah perawat memiliki wewenang untuk dampak terhadap lingkungan pasien yang memadai? Apabila tiba – tiba, perubahan ENVI sering ronmental mempengaruhi persepsi pasien dari proses reparative mereka? Ini hanya beberapa pertanyaan banyak kemingkinan yang dapat digunakan untuk memandu penelitian. Jawaban atas pertanyaan – pertanyaan ini juga dapat digunakan untuk mengembangkan pedoman untuk pendidikan keperawatan dan praktek.
Teori keperawatan Nightingale yang terkait dengan teori – teori ilmiah yang sering digunakan dalam praktek keperawatan saat ini. Yang paling signifikan adalah teori adaptasi, kebutuhan, dan stress.

2.7 TEORI – TEORI ILMIAH DALAM TEORI NIGHTINGALE
a.                   Teori Adaptasi
Adaptasi mencerminkan penyesuaian manusia untuk kekuatan yang berhadapan dengannya. Pasukan tersebut dilihat dalam konteks keseluruhan lingkungan di mana manusia menemukan dirinya sendiri. Keberhasilan atau tidak berhasilnya tanggapan adpatative manusia dapat dilihat dengan meninjau kekuatan lingkungan yang dijelaskan oleh Nightingale. Kemampuan manusia untuk memungkinkan alam untuk bertindak sebagai nama yang dipengaruhi oleh lingkungannya dapat menyebabkan respon adaptif atau baik maladaptih. Sebagai contoh, seorang pasien yang menemukan dirinya sendiri dalam lingkungan yang dingin dan berdebu, ventilasi yang buruk harus menggunakan banyak energy yang tersedianya untuk beradaptasi dengan lingkungannya bukan untuk pulih dari penyakitnya.
            Untuk menempatkan ini dalam konteks sekarang, salah satu yang harus dicatat bahwa selama parang Vietnam, tentara Injurd cepat diterbangkan ke stasiun Asualty di mana mereka diperlukan sebelum dikirim ke rumah sakit terdekat untuk perawatan yang lebih lengkap. dibandingkan dengan pengobatan sebelumnya terluka, yang menyebabkan tingkat kematian jauh lebih rendah. Di akui, hal ini berhubungan erat dengan perawatan medis ditingkatkan, tetapi juga harus dicatat bahwa teori Nightingale menekankan bahwa orang miskin juga layak untuk mendapatkan perawatan.
b.                  Teori Kebutuhan
Kebutuhan Teori, terutama Maslow, pada dasarnya mengakui teori-teori yang diberikan penekanan oleh Nightingale: misalnya, kebutuhan oksigenasi dilihat dalam konteks udara segar, ventilasi, dan kebutuhan lingkungan yang aman yang terkait dengan drainase yang tepat dan air bersih. Teori perlu menekankan kemampuan manusia untuk bertahan hidup dalam konteks seberapa baik kebutuhan ini terpenuhi. Lingkungan yang sangat mendukung fisiologis dasar manusia merupakan kebutuhan penting.


Maslow menekankan pada tatanan hirarkis kebutuhan fisiologis kebutuhan sebagai primer, sementara kebutuhan emosional dan sosial memiliki arti yang kurang untuk bertahan hidup. Sekali lagi, penekanan Nightingale pada lingkungan fisik yang mempengaruhi fungsi fisiologis manusia mendukung teori Maslow.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar